Gemuruh guntur pertama Tahun 2019 di awal bulan November memberi harapan bagi para petani untuk bergegas mempersiapkan lahannya, mulai dari yang masih menggunakan sistem tebas bakar hingga yang sudah mulai membajak menggunakan traktor milik pemerintah. Rutinitas ini adalah kebiasaan yang disesuaikan dengan kondisi cuaca yang tidak dapat diprediksi. Disela-sela rutinitas ini tepat pada tanggal 02 November, seluruh aktivitas terlihat berhenti dan sunyi di sekitar perkampungan hal ini dikarenakan seluruh penghuni kampung tanpa terkecuali, mereka berdatangan ke lokasi pemakaman keluarga tempat bagi anggota keluarga yang telah meninggal dunia dimakamkan dengan tujuan untuk membersihkannya dan mendoakannya sambil menyalakan lilin disetiap sudut-sudut makam.
[caption id="attachment_504" align="aligncenter" width="300"] Gerbang Kota Tua yang berada dalam Hutan[/caption] | [caption id="attachment_505" align="aligncenter" width="300"] Warga Sedang membersihkan Makam[/caption] |
Masyarakat Sedang Membersihkan Makam, Membakar Lilin dan Menaburkan Bunga[/caption] Oleh karena kebiasaan ini tanggal 2 November sering disebut oleh warga sebagai "Loron Matebian" sebagai Hari untuk mengenang arwah sanak keluarga yang telah meninggal dunia serta hari untuk merefleksikan diri.Pada malam setelah menyalakan lilin di lokasi pemakaman seluruh warga akan berdoa dan berjalan beriringan menyusuri makam demi makam untuk mendoakan arwah-arwah tanpa terkecuali, kegiatan inilah yang membuat seluruh masyarakat terlibat dengan maksud untuk secara bersama-sama mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Admin Website Desa Faturika.