Masyarakat Faturika dusun Webaha A dan Webaha B dikagetkan dengan kejadian luar biasa "kebakaran rumah pemali" yang terjadi di Dusun Webaha B RT 01 pada sabtu malam tepat pukul 18.17.
Menurut cerita beberapa saksi mata, pada awalnya mereka melihat kepulan asap tetapi tidak langsung berteriak karena pada kondisi cuaca yang lembab seperti sekarang ini, setiap rumah suku selalu menghidupkan api untuk menghangatkan seisi rumah. Namun keadaan berubah seketika dan membuat mereka panik karena asap yang keluar cukup tebal dan tidak seperti biasanya. "Ami hanoin haak fal ema tau hai biasa ba uma lulik, hare ba hai dubun tuan bot, niama ami hahi kari onan e" (Kami pikir penjaga rumah suku menghidupkan api seperti biasanya, tetapi semakin lama kepulan asap kian membesar, langsung kami berteriak) cerita salah seorang pemuda yang malam itu ikut terlibat memadamkan api.
Mendengar teriakkan tersebut segenap keluarga anggota suku yang berada disekitar rumah suku tersebut pun berhamburan keluar rumah menuju lokasi kebakaran, dalam sekejap api mulai membakar dari bagian dalam rumah hingga bubungan rumah.
Mendengar keributan disekitar rumah, kami pun keluar dan langsung panik karena kepulan asap dan api yang semakin meninggi sampai bubungan rumah pemali, kami langsung berlari mencari ember dan baskom untuk ambil air untuk siram api ungkap salah seorang anggota keluarga Lambertus Mau penjaga sekaligus kepala suku rumah suku Bikan.
Dalam waktu singkat lokasi kejadian telah dipenuhi warga sekitar yang berdatangan dan ikut membantu memadamkan api yang semakin meninggi. Kebakaran tidak berlangsung lama karena aksi cepat tanggap warga, sekitar pukul 18.50 api sudah berhasil dipadamkan.
Akibat kejadian ini anggota suku yang menjaga rumah adat tersebut mengalami kerugian materi.
Amikan batar ai siwi resin no fore sia hai na mos (Jagung hasil panen berjumlah 9 ikat dalam hitungan tradisional sekitar 11.000 tongkol jagung dan kacang-kacangan habis di lahap api) cerita mama Martina pengjaga rumah suku ini.